Edi Yana : Maniskan Anggur Bali

Majalah Trubus, Senin, 04 September 2006 07:55:02

Di sebuah ruangan balai penelitian di Singaraja, Bali. Seorang peneliti terheran-heran kala Trubus bercerita hendak ke kebun anggur. Apanya yang mau diliput. Memang masih ada anggur manis di sini? tanya Dr Haryanti MS, sang peneliti, tak percaya. Sejak 3 -4 tahun terakhir kejayaan anggur bali memang terbenam. Tak ada lagi anggur super yang manis. Namun, di salah satu sudut Singaraja, Trubus menemukan anggur super dari sebuah kebun. Meski tingkat kematangan belum optimal, rasa manis terasa menyergap lidah.

Rasa anggur di kebun I Gede Edi Yana SE itu luar biasa. Ini belum seberapa. Bila 3 -4 hari lagi dipetik, pasti lebih manis, katanya. Memang saat dipetik tangkai buah anggota keluarga Vitaceae itu masih hijau bersemburat ungu. Tanda buah matang optimal tangkai buah bagian atas berubah ungu.

Toh , semua orang sepakat, anggur dari kebun Edi Yana tergolong terbaik di Singaraja. Kalau mau anggur manis, datang saja ke kebunnya, kata seorang kenalan yang Trubus temui di sebuah pameran di Kuta pada penghujung 2003. Pantas anggur yang berasal dari Kecamatan Seririt, Singaraja, itu kerap dipajang di berbagai pameran nasional.

Teknik pemupukan

Sepintas pemandangan di kebun Edi tak ada bedanya dengan kebun di sekitar. Usut punya usut, teknik pemupukan yang dilakukan ayah 3 anak itulah yang menyebabkan kualitas buah berbeda. Ia mengandalkan pupuk NPK berkadar K tinggi dan pengapuran dolomit CaMg(CO3)2 agar buah manis. K tinggi diberikan saat tanaman disuburkan, sebelum dipangkas untuk berbunga. Pekebun lain lazimnya menggunakan pupuk NPK seimbang dan pengapuran kalsit CaCO3

Menurut Ir Wijaya MS, pakar buah di Bogor, teknik pemupukan K tinggi memang berperan meningkatkan kualitas buah. Kalium berperan sebagai katalisator enzim dalam pembentukan gula dari amilum, kata mantan peneliti di Kebun Pembibitan Buah Cipaku, Bogor, itu. Kalium juga berperan mempertebal dinding sel sehingga tanaman lebih tegar dan kokoh.

Pengapuran dolomit CaMg(CO3)2 diakui memaniskan buah. Pasalnya, kapur dolomit mengandung Mg. Magnesium itu satu-satunya mineral penyusun klorofi l. Ia tak ditemui di kalsit, ujarnya. Dengan penambahan magnesium maka daun lebih hijau. Secara tak langsung proses pembentukan gula menjadi lebih optimal ketimbang tanaman yang kekurangan magnesium.

NPK 1:2:2

Menurut Edi, pupuk K tinggi diberikan pertama kali saat tanaman berumur 11 bulan setelah tanam. Benamkan 1 ons NPK 1:2:2 sejauh 1 m di sekeliling batang setiap 10 hari. Pemberian dilakukan 4 kali sebelum tanaman dipangkas. Sebelumnya, pada umur 2 -11 bulan, pupuk yang digunakan ialah NPK 2:2:1.

Pohon yang dipupuk K tinggi batangnya semakin kokoh. Pada bulan ke-12 dilakukan pemangkasan cabang. Minimal 7 ruas disisakan pada cabang tersier. Agar memudahkan, waktu pemangkasan itu dianggap sebagai 0 hari. Anggur dipanen 105 hari setelah pemangkasan. Pada umur 0 -5 hari biasanya air masih mengucur dari cabang yang dipangkas. Baru pada hari ke-5 sampai ke-20 dilakukan penyemprotan ZPT dari golongan auksin dan giberelin untuk merangsang tunas bunga keluar serempak. Dosisnya sekitar 1 cc per liter atau sesuai yang tertera di kemasan. Perlakuan 4 kali setiap 5 hari.

Pada umur 50 hari lazimnya bunga yang muncul telah menjadi bakal buah. Benamkan 1 kg NPK 1:2:2 di sekeliling batang. Tujuannya agar dinding sel buah kokoh. Ulangi pembenaman NPK 1:2:2 sebanyak 0, 75 kg pada hari ke-75. Pada umur itu terjadi proses pematangan buah. Pemberian K tinggi diharapkan mampu meningkatkan enzim yang berperan dalam pembentukan gula. Pada hari ke-105, buah siap dipanen dengan cara digunting.

Suburkan kembali

Setelah panen, tanah disuburkan kembali. Caranya tambahkan bokashi 20 kg dan dolomit 2, 5 -3, 5 kg. Bokashi berperan memasok hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Dolomit menaikkan pH tanah agar mendekati netral. Berikan juga 2 kg pupuk K tinggi untuk mengokohkan batang. Setelah itu istirahatkan tanah selama 2 minggu, sambil menunggu tanaman subur. Pohon yang telah subur siap dipangkas kembali sama seperti pada saat perangsangan bunga.

Menurut Edi cara itu bisa diterapkan pada anggur di daerah lain. Yang terpenting wilayah itu cocok untuk penanaman anggur. Dari penelusuran Trubus , lokasi yang paling sesuai untuk anggur ialah yang memiliki ketinggian tak lebih dari 300 m. Tanahnya cukup gembur, tapi memiliki lapisan cadas di kedalaman 40 cm. Lapisan cadas itu dibutuhkan untuk menahan air irigasi dan pupuk tercuci. (Destika Cahyana)

Iklan

Comments (83) »

TaBuLamPot : Solusi Pas di Lahan Terbatas

Sinar Harapan , Cibinong – Keterbatasan lahan tak mesti mengekang hobi pertanian. Sebagian pehobi coba kutak-kutik. Mereka tetap melakukan hobi berkebun walau ruang yang tersedia tak cukup luas. Jangan sebut kata luas, tapi pas-pasan. Lewat sebuah kebetulan, muncul alternatif baru untuk menjawab kelangkaan lahan tadi. Dari situ, pilihan tempat untuk menanam tak lagi terbatas di lahan terbuka, macam pekarangan atau kebun, namun sudah merambah pada media pot. Inilah yang disebut tanaman buah dalam pot atau yang di kalangan pehobi disebut ”tabulampot”.

Poly
Bayu Dwi Mardana
Lily Turangan tampak asyik merawat tanbulampot kesayangan. Bagi pehobi berkebun di kota, tanbulampot bisa jadi alternatif yang menarik.

”Tanbulampot memang dikenal sebagai solusi bertani bagi orang-orang kota. Dengan lahan sempit, orang-orang kota itu ingin bisa menikmati buah dari pohon yang mereka tanam,” ungkap Lily Turangan (57), salah seorang pehobi tanaman di bilangan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Ibu yang mengaku cinta tanaman sejak usia sekolah dasar ini amat tergila-gila dengan tanaman buah dalam pot. Buktinya, ia tak cuma menanam pohon buah dalam pot saja tapi ikut mengembangbiakkan tanaman itu.
Menurut Ir. Joesi Endah, penggemar tanaman yang juga konsultan pertanian, budi daya sistem tanaman buah dalam pot tak hanya melahirkan solusi bertani bagi orang kota atau pemilik lahan sempit, namun juga mengandung kolaborasi antara teknologi pertanian dan nilai estetika.
Awalnya, cara bertanam di dalam pot hanyalah sebagai kegiatan iseng beberapa penangkar buah. Ini dilakukan karena bibit tanamannya tak banyak yang laku terjual. Kejadian ini berlangsung pada awal delapan puluhan. Saat itu, urusan jual-beli bibit tanaman buah belum semeriah sekarang.
Khawatir bibit yang tak laku tumbuh terus, para penangkar itu nekat menanamnya dalam pot. Perawatan yang dilakukan pun tak jauh beda ketika bibit itu ditanam di tanah lapang. Hasilnya, sungguh di luar dugaan. ”Mereka bisa tetap mendapat buah. Bahkan lebih rajin berbuah dan tanamannya mudah didapat,” kata Joesi, insinyur pertanian jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Ada sejumlah keuntungan bila memelihara tanaman buah dalam pot di sekitar kita. Paling gampang, kebutuhan gizi dan vitamin keluarga bisa terpenuhi berkat buah yang hadir hampir sepanjang musim. Belum lagi, unsur penghijauan rumah meski hanya punya lahan pas-pasan. Unsur estetika dan keindahan pun bisa muncul. Coba saja lihat saat tanaman itu semarak berbuah. Warna kuning ranum berpadu hijau daun yang cantik. Lagi pula ukuran tajuk tanaman ini tergolong ”kompak” sebab tingginya hanya sekitar 1 sampai 2 meter saja.
”Penempatan secara soliter di teras atau di dalam ruangan bisa dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi tanaman. Ia juga bisa dipadukan dengan tanaman hias di taman atau halaman rumah,” ujar Joesi tentang fungsi estetika tanaman buah dalam pot.
Beragam tanaman buah saat ini sudah banyak yang berhasil dibudidayakan dengan distem pot. Lily Turangan menyebut enam jenis tanaman buah yang biasa ia tanam dengan teknik ini. ”Dari pengalaman saya, jenis mangga, jambu biji, belimbing, jeruk, srikaya dan kedondong mudah berbuah dan hidup dalam pot.”
Ada yang mudah, tentu ada pula yang sulit. Jenis alpukat, durian, gandaria dan nangka besar adalah beberapa contoh tanaman buah yang sulit ditanam sebagai tanaman dalam pot. Sedang jambu bol, jambu mawar, manggis, duku, jamblang, lengkeng, nangka madu dan rambutan termasuk contoh yang agak sulit dibudidayakan sebagai tanaman dalam pot.

Lima Syarat
Agar tanaman dalam pot rajin berbuah, Lily dan Joesi sama-sama menyebut sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Paling tidak ada lima syarat tumbuh atau faktor yang jadi pertimbangan.
Pertama, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan ketinggian tempat. Kedua, pemilihan bibit tanaman. Diikuti pemilihan media tanam dan pot. Lalu pemupukan yang efektif dan terakhir, pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Pengetahuan asal-usul tanaman harus sudah nyantol di otak sebelum memutuskan menanam suatu bibit tanaman buah dengan teknik pot. Ini penting. ”Jangan sampai stroberi dan apel yang merupakan tanaman di daerah dingin, ditanam di dataran rendah. Wah, mana mau berbuah dia,” kata Joesi memberi perumpamaan. Umumnya, semua jenis tanaman buah hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik bila ditanam di daerah berketinggian sekitar 400 m dpl.
Pemilihan bibit juga tak kalah penting. Bibit yang baik tentu akan menghasilkan – secara kualitas dan kuantitas – pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang jempolan. ”Saya menganjurkan untuk memilih bibit tanaman buah yang jelas asal-usulnya. Artinya, bibit dibeli dari penangkar tanaman yang baik dan terpercaya,” ucap Lily.
Urusan bibit selesai, langkah berikut menyiapkan media tanam dan pot. Kata Joesi, media tanam yang digunakan untuk tanaman buah dalam pot sebaiknya memenuhi syarat minimal, yaitu mengandung tanah sebesar 50 %, pasir 20 % dan bahan organik 30 %.
Dari syarat minimal tadi, bisa diterjermahkan menjadi berbagai macam komposisi bahan dasar sebagai media tanaman buah dalam pot. Bahan dasar untuk media tanam terdiri atas tanah, pupuk kandang, kompos, pupuk kimiawi dan bahan lain sebagai tambahan.
Pemilihan pot yang tepat menjadi modal awal bagi pertumbuhan tanaman. Pot yang digunakan bisa dipilih dengan memanfaatkan kaleng biskuit bekas, sisa galon air mineral, ember tak terpakai, drum bekas senyawa kimia dan lainnya. Agar menghindari kontaminasi zat, Lily menyarankan membeli wadah yang sudah dicuci. Wadah favorit tetap dipegang belahan drum bekas. Wadah ini mampu menampung seluruh sistem pengakaran.
Pemupukan harus dilakukan dengan dosis tertentu. Kelebihan dan kekurangan dosis tentu berdampak buruk bagi tanaman itu. Jenis pupuk yang bisa dipilih memang beragam. Yang pasti, tanaman buah butuh unsur hara makro, seperti N, P, K dan unsur hara mikro macam Ca, Mg dan S. Unsur hara mineral itu merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cermati pula waktu dan cara pemupukan.
Langkah terakhir, pengawasan terhadap hama dan penyakit tanaman. Faktor pengganggu ini jangan sampai mengacaukan mimpi Anda untuk memanen buah. Bayangkan betapa kecewanya hati ini saat mengetahui pertumbuhan tanaman buah terhambat oleh hama dan penyakit.
Pada tanaman buah juga dikenal teknik pemangkasan. Tujuannya, kata Joesi, untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produksi. Pemangkasan juga mampu menjaga kelembaban tanaman sehingga tak mudah terserang hama dan penyakit.
Berdasar umur tanaman, pemangkasan terbagi menjadi tiga, yaitu pemangkasan pada pembibitan, pemangkasan tanaman yang belum menghasilkan dan pemangkasan tanaman yang sudah menghasilkan. Sedang dilihat dari tujuannya, pemangkasan dibedakan menjadi empat, yaitu pemangkasan bentuk, pemeliharaan, produksi dan peremajaan.
Bagi sebagian pehobi, tanaman buah dalam pot bisa jadi lahan bisnis yang menarik. Dengan perawatan yang cermat, tanaman buah dalam pot mampu menyedot perhatian siapa saja.
Tajuk tanaman yang tak terlalu tinggi dengan disusupi gerombol buah di ujung cabang, apalagi saat dicicipi buahnya, terasa manis dan segar, siapa yang tak kepincut. Jadi jangan heran bila ada tanaman buah dalam pot yang mampu mencapai seharga tiga juta rupiah. Wow!
(SH/bayu dwi mardana)

Poly2

Jambu biji termasuk salah satu jenis tanaman buah yang mudah ditanam dan berbuah dengan teknik tanbulampot.

Copyright © Sinar Harapan 2002

Comments (124) »

Bersantap di Resto Organik, Enak Tanpa Vetsin

Kini mulai menjamur restoran yang mengaku penyaji makanan organik.
Proses penanamannya memang non-kimiawi. Benarkah tak cuma bikin enteng
badan? “Badan rasanya enteng sekali, terutama bahu,” yakin Hariyanto, saat
menjelaskan manfaat sayur organik yang dikonsumsinya setiap hari selama hampir setengah tahun ini.

Bukan hanya alasan kesehatan yang membuat pria 48 tahun ini menyukai
makanan organik. Mulanya semacam test-case sebelum pelanggan mencicipi sajian sayuran organik di restoran miliknya, “Warung Daun” (WD).
Namun, ia jadi keterusan. Habis sehat sih. Barang aneh harga mahal
Upaya menyajikan makanan sehat sepenuhnya juga dilakukan Stevan Lie.
Sekitar empat tahun lalu, ujarnya, makanan organik di Jakarta masih
barang langka, “Mereka yang cukup uang membelinya di Singapura.”
Rekannya, dr. Riani Susanto, ND, CT, seorang dokter naturopati menyarankan agar Stevan mengimpor bahan makanan organik. Namun, masa itu, selain harganya mahal, pasarnya pun belum ada. Yang paling menyakitkan, “Kami dikejar waktu, karena bahan organik expired date-nya pendek.”
Meski begitu, tahun 2001, ia membuka gerai kecil di Ranch Market Pejaten.
Bahan makanan organik impor ia pajang. Namun, apa yang terjadi? Hampir
tak ada orang menyambangi. Setengah sinis mereka berkomentar, “Barang apaan nih. Kok mahal amat!” Itulah yang membuat Stevan sedih.

Sulih resep
Januari 2004, atas umpan – saran dari pelanggan yang sudah membeli bahan
makanan organik berharga mahal tapi tak tahu rasanya, Stevan membuka toko dan restoran sekaligus di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Konsep ini disempurnakan jadi 3-in-1, yakni dilengkapi dengan klinik detox centre, yang ditangani langsung dr. Riani. Tiga bulan pertama, restoran yang dinamainya Healthy Choice (HC) itu sepi tamu. Daripada bahan makanan yang dibeli mahal itu rusak, terpaksa dimasak untuk karyawan.

Berbeda dengan resto biasa, HC semaksimal mungkin menggunakan bahan
makanan organik. Terutama sayuran. “Tidak seratus persen (berbahan organik), karena susah mencari rempah-rempah yang semuanya organik,” terang Stevan. Namun, dengan resto mungil yang cuma memuat 20 orang itu,
ia ingin membuktikan bahwa health-food juga bisa enak, bukan seperti
makanan rumah sakit yang tak ada rasa.

Bagaimana caranya? Dengan sulih resep. Artinya, seluruh bahan diganti
dengan barang organik. Stevan dan stafnya putar otak menciptakan makanan yang ingredient-nya Sehat. Maka terciptalah misalnya Tom Yam menggunakan cuka apel. Atau udang goreng, yang biasanya pakai kecap manis,
diganti molase, baik untuk diabetisi. Untuk pengganti kecap asin dipakai
liquid aminos yang kadar sodiumnya rendah, aman bagi penderita hipertensi. Ada juga laksa dan kari yang tidak pakai santan, diganti susu soya (kedelai), sehingga aman bagi penderita hiperkolesterolemi. “Semua ada penggantinya, termasuk vetsin,” yakin Stevan. Diakui, walau tidak didampingi ahli gizi,
peran dr. Riani sebagai spesialis detoksifikasi yang mengerti nutrisi
cukup besar. Tak perlu dihitung kalori setiap Sajian, yang penting proses
penyajiannya benar dan teliti.

Comments (12) »

Peralatan Berkebun

Ayo Berkebun!

Gembor Jika Anda suka berkebun dan bertanam, pasti sangat membutuhkan perlengkapan berkebun yang baik. Asal tahu saja, alat berkebun ternyata tak hanya gunting untuk alat potong, atau sekop untuk menggali tanah, lo. Ayo, kita kenali apa saja alat-alat yang bisa digunakan untuk merawat tanaman-tanaman koleksi Anda.

Alat untuk tanah:
Cultivator: Untuk menggemburkan dan meratakan tanah serta mengumpulkan daun kering.

Fork: Untuk meratakan tanah, mengaduk tanah yang padat, mengumpulkan daun kering, dan mencungkil batu-batuan.garpu

Trowel: Alat ini fungsinya sebagai sarana untuk menyendok, menyekop, menggali, mengaduk dan mencampur tanah, pupuk, dan media tanam lainnya.

Tranplanter: Untuk menggali, mengaduk, dan menggemburkan tanah dalam pot.
Juga buat melubangi tanah untuk memindahkan tanaman.

sendok Weed Puller : Peralatan berkebun yang digunakan untuk mencungkil dan mencabut rumput liar.

Scope Trowel: Penyekop media tanam yang kuat. Dapat menyekop media tanam dengan banyak sehingga menghemat tenaga karena desain sekop yang lebar.

Alat-alat Potong:
By pass blades: gunting untuk dahan yang basah.

Universal blades: gunting untuk di dapur atau tanaman, misalnya anggrek.

Anvil blades: untuk menggunting dan memotong tanaman.tang

By pass blades + anvil blades: punya dua fungsi.

Gunting rumput: untuk menggunting rumput.

Rachet: gunting yang dipakai untuk dahan besar, kering, keras, dan tua.

shower Selain itu, ada pula alat penyemprot air, semisal sprinklers, yakni penyebar air yang memutar seperti baling-baling. Ada juga selang air yang airnya keluar dari lubang-lubang selangnya. “Selang ini bisa dipergunakan untuk tanaman yang tidak boleh disiram dalam kondisi kencang, karena bisa-bisa tanaman akan stres, lalu mati. Misalnya, untuk keladi yang batangnya lunak, atau anggrek,” tutur Linda Ticoalu dari Adelia Garden Center.

Untuk tanaman yang emoh semprotan air yang keras bisa juga memakai semprotan (sprayer) khusus yang bisa mengeluarkan air secara lembut. “Kalau mau praktis, pakai dua semprotan dalam satu alat. Jadi, tinggal diputar saja mau yang kencang atau pelan,” kata Linda.

Bersihkan & Simpan
1. Bersihkan dan tetesi dengan minyak pada pisau gunting yang telah dipakai. Tak lain maksudnya agar pisau tetap awet dan tajam.
2. Peralatan berkebun setelah digunakan sebaiknya dibersihkan agar tidak mudah berkarat dan tahan lama.
3. Weed Puller sebaiknya jangan digunakan untuk mencongkel bongkahan tanah, karena bisa merusak alat tersebut.
4. Untuk keamanan, jauhkan alat-alat berkebun dari jangkauan anak-anak.shower2

Alat-alat koleksi: Adelia Garden Center, Flora Alam Sutera, Serpong, Tangerang (021 700 700 67).

Comments (5) »

Kita Memiliki Ratusan Varietas Jeruk

MINGGUAN Far Eastern Economic Review (FEER)
pertengahan bulan Oktober lalu menampilkan tulisan
The Great Horticultural Revolution, China’s Farmers Are
Rocking World Markets. Intinya, betapa hebat negeri
China dalam waktu singkat muncul menjadi produsen
produk buah dan sayuran dunia yang nyaris menyodok
dominasi Amerika Serikat.
Sejumlah petani yang semula adalah pensiunan pegawai
pemerintahan negeri Tirai Bambu itu, tidak berhenti
bekerja begitu saja setelah menyandang status
pensiunan tersebut. Mereka menanam berbagai jenis
sayuran dan buah. Produk mereka bisa memasuki pasar
Jepang, Singapura, dan bahkan mulai merambah
Amerika Serikat (AS).
Di Indonesia, produk mereka mudah dijumpai di pasar
swalayan. Produk mereka mendominasi pasar
dibandingkan dengan produk lokal ataupun produk impor
lainnya. Kekayaan kita yang melimpah hampir terlibas
oleh produk-produk mereka.
Padahal kita memiliki berbagai komoditas hortikultura
yang juga tak kalah hebat. Salah satunya adalah jeruk.
Kita sering kali tidak mau untuk sejenak mengamati
tanaman jeruk yang ada di sekitar kita. Sepertinya
semua itu sudah menjadi hadiah alam sehingga
cenderung membiarkannya, sedangkan produk impor
terus membanjiri pasar.
Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura
Subtropis (Lolitjeruk), Badan Libtang Pertanian, yang
berada di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, sudah lama
berusaha mengumpulkan salah satu kekayaan sumber
daya hayati ini. Lembaga ini sudah mengumpulkan
paling tidak 160 varietas jeruk dari Sabang sampai
Merauke, serta sedikit dari varietas luar negeri.
Beberapa di antaranya adalah jeruk keprok Tejakula,
Sipirok, Kacang, Siem, Banjar, Sioumpu, Siam Madu,
dan Bali Merah. Ada juga Crifta 01, Jemari Taji, Pamelo
Ratu, Raja, Magetan, Sri Nyonya, Nambangan, dan jeruk
manis Pacitan.
Lembaga ini memiliki kebun yang berisi berbagai jenis
tanaman jeruk yang terletak di Kebun Percobaan Punten
tidak jauh dari Kota Batu. Satu varietas terdiri dari dua
pohon induk (mother tree). Tanaman ini dilindungi dalam
sebuah rumah yang tertutup oleh kain kasa.
Pengamanan ini agar tidak ada vektor penyakit yang
masuk dan bisa merusak tanaman jeruk.
KEPALA Lolitjeruk Ari Supriyanto dan peneliti jeruk
Anang Triwiratno mengatakan, berbagai varietas jeruk ini
pada dasarnya secara komersial dikelompokkan menjadi
beberapa jenis, yaitu jeruk manis, jeruk keprok, jeruk
siam, dan jeruk jenis tertentu.
Jeruk manis (Citrus sinensis) adalah jeruk yang memiliki
kulit tebal dan biasanya untuk dapat dikonsumsi harus

dipotong dengan pisau. Jeruk yang termasuk dalam
kelompok ini antara lain jeruk Pacitan dan jeruk
Valensia.
Adapun jeruk keprok (Citrus reticulata) atau dalam
perdagangan internasional disebut jeruk Mandarin. Jeruk
ini memiliki ciri berkulit tebal dan buahnya agak besar.
Jeruk ini pada awalnya banyak ditemukan di China dan
Asia Tenggara. Jeruk ini dibawa ke Eropa dan Amerika
sekitar tahun 1800-an. Jadilah jeruk ini mendunia.
Sementara jeruk siam (Citrus suhuensis) atau disebut
jeruk Tanggerin memiliki ciri berkulit tipis. Anang
Triwiratno mengatakan, hampir 80 persen jeruk yang
ada di Indonesia merupakan jeruk siam.
Jeruk jenis tertentu terdiri dari jeruk nipis, jeruk pamelo
atau jeruk besar, jeruk purut, dan jeruk sambal. Jeruk
Bali termasuk dalam jeruk pamelo atau jeruk besar itu.
Sedangkan jeruk sambal misalnya limau yang sering
dipakai untuk “mengasamkan” siomay. Sampai saat ini
jeruk yang disebut benar-benar asli Indonesia adalah
jeruk nipis.
DI antara berbagai jenis buah-buahan, jeruk merupakan
salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi
dibandingkan dengan buah lainnya. Bila diusahakan
secara komersial, jeruk akan memberi keuntungan yang
besar karena konsumsi jeruk sangat tinggi. Permintaan
jeruk mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Perkembangan luas areal tanaman jeruk seperti yang
tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS) dari 24.563
hektar dengan produksi 696.422 ton pada tahun 1997,
kemudian meningkat pada tahun 2002 menjadi luas
panen 47.824 hektar dengan produksi 968.132 ton.
Meski demikian, pertanyaannya mengapa jeruk impor
membanjiri pasar?
Ari Supriyanto mengatakan, tingginya impor jeruk sejak
beberapa tahun lalu sebenarnya memperlihatkan adanya
permintaan jeruk jenis tertentu. Ini juga menjadi
tantangan bagi produsen dalam negeri. Permintaan jenis
ini harus diikuti dengan penelitian hingga dihasilkan jeruk
yang sesuai dengan selera konsumen.
Dengan demikian, meski kita memiliki banyak varietas
jeruk, maka yang harus dilakukan adalah rasionalisasi
penanaman jeruk. Beragamnya varietas jeruk
menyebabkan mutu jeruk yang dihasilkan sangat
beragam dan akibatnya pemasaran jeruk tidak efisien.
Untuk itu, harus dicari jeruk-jeruk unggul yang sesuai
dengan selera konsumen baik lokal maupun luar negeri
yang dibudidayakan. Sangat boleh jadi beberapa
varietas jeruk tidak disukai di dalam negeri tetapi kalau
pasar di luar negeri membutuhkan, maka budidaya jeruk
jenis ini pun perlu dilakukan untuk tujuan ekspor.
Beberapa pemerintah daerah menyadari hal ini. Potensi
penanaman jeruk di daerah tertentu dimaksimalkan dan
hanya jeruk tertentu yang ditanam di daerah ini.
Kebangkitan jeruk mulai terlihat seperti di Kabupaten
Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dan beberapa
kabupaten di Provinsi Jawa Timur.(ANDREAS
MARYOTO)

Comments (10) »

Ucapan Terima Kasih

Hari ini Saya Senang sekali, bayangkan dalam waktu kurang dr 1 bulan, weblog Saya sudah dibaca oleh lebih dari 1000 orang. Terima kasih wordpress, WordPress memang dahsyat.

Terima kasih juga kepada para pembaca yg sudah meluangkan waktu utk berkunjung ke Blog Saya. Jujur Saya akui, Saya bukan orang yg mahir ber-TaBuLamPot. Saya mengumpulkan file, menulis hasil x’perimen, motivasinya adalah sebagai catatan yg bisa Saya buka kembali disaat Saya memerlukannya.

Tapi, bila itu juga menarik minat banyak orang utk membaca (terbuktikan pengunjung blog Saya rata-rata 50 orang / hari) dan kemudian berguna utk umum, wah…Saya senang sekali. Dan Saya patut mengucapkan banyak terima kasih.

Pertanyaannya sekarang adalah, dr 1000 pengunjung, hampir tidak ada yg meninggalkan jejak beruap comment ? Berarti gaya tulisan Saya kurang provokatif.
Hmmm, Saya akan merubahnya. Bagaimana caranya ?
Please, berilah comment Anda agar bisa Saya jadikan koreksi.

Terima kasih, Pembaca.

Mari berkebun…!

Salam

Mukti Prayitno
0815-10-272-683

Comments (2) »

UPPKS INTAN KENCANA BISNIS SIRUP JERUK NIPIS BUTUH BAPAK ANGKAT

TaBuLamPot, 04 Januari 2007

Ciawi, KBI Gemari
Berawal dari keprihatinannya terhadap hasil panen jeruk nipis yang berlimpah dan tidak dimanfaatkan secara maksimal di daerahnya, sehingga banyak jeruk yang menjadi busuk dan mubazir. Selain itu, Prof. DR. H. Haryono Suyono sewaktu menjadi Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN menyarankan Nunung Nurhayati, untuk mengembangkan dan memanfaatkan panenan jeruk nipis supaya menjadi Sirup Jeruk Nipis. Hal itulah yang menambah kepercayaan dirinya untuk berkiprah.
Sebagai seorang Kepala Urusan Desa yang membawahi bidang kesejahteraan rakyat di Desa Ciawi Gebang, Kuningan, Jawa Barat, Nunung Nurhayati melihat, betapa menyedihkan tingkat ekonomi masyarakat di desanya. Untuk itu, ketua kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Berencana (UPPKS) Intan Kencana ini berusaha keras bagaimana caranya mengangkat kesejahteraan masyarakat di desanya tersebut.
Melihat di desanya banyak pohon jeruk nipis yang kurang mendapat perhatian dari para petani, sehingga panennya terbengkalai, Nunung lalu mengumpulkan beberapa orang ibu untuk mencoba membuat suatu produk siap pakai yang bahan bakunya dari jeruk nipis. Berbekal pelatihan dari Kanwil Departemen Perindustrian dan Perdagangan, serta pengalamannya selama sekolah di Sekolah Perawat Kesehatan, akhirnya jeruk nipis mubazir itu bisa diolah menjadi sirup dan tonik.
“Syukur alhamdulillah, ternyata sirup dan tonik jeruk nipis ini bukan hanya digemari di Indonesia saja, tapi juga oleh orang-orang manca negara,” ucapnya ketika ditemui KBI Gemari, baru-baru ini. Menurut Nunung, saat ini yang menjadi kendala ekspor dari jeruk nipis produksi kelompok UPPKS Intan Kencana selain permodalan adalah kemasan.
Umumnya pihak luar negeri menginginkan kemasan dari botol plastik sehingga mudah didaur ulang. Sedangkan kemasan yang digunakan produksi UPPKS ini dari botol kaca yang cukup berat bila akan dikirim, dan sulit untuk didaur ulang. Tak pelak, jika ada pengusaha botol plastik yang mau bekerja sama untuk menyediakan kemasan produksinya, Nunung merasa sangat senang.
Mengapa demikian? “karena, cita-cita saya untuk mengekspor hasil jeruk nipis ini ke manca negara bisa tercapai. Sedangkan untuk konsumsi dalam negeri, saya akan tetap mempertahankan menggunakan kemasan botol kaca. Karena dengan menggunakan botol kaca, tenaga kerja yang terserap cukup besar, terutama untuk mencuci botol-botol ini agar tetap steril,” harapnya.
Selama ini, diakui Nunung, memang ada yang mengekspor sirup jeruk nipisnya ke manca negara, seperti Brunei Darussalam, Kuwait, Jepang dan beberapa negara lainnya. Namun demikian jumlahnya masih kecil, karena keterbatasan tenaga dan permodalan, selain tentunya bahan baku.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku jeruk nipis, kelompok UPPKS Intan Kencana melakukan kerja sama dengan para petani, yaitu melalui pemberian bibit dan pupuk gratis serta kepastian untuk membeli hasil panen para petani ini. Dengan begitu petani di Desa Ciawi Gebang pun terangkat kehidupannya.
Kelompok UPPKS Intan Kencana yang dibentuk tanggal 1 Oktober 1996 beranggotakan 20 orang. Terdiri dari 18 orang Keluarga Sejahtera I yang semula Prasejahtera, dan dua orang dari Keluarga Sejahtera I yang kini menjadi Keluarga Sejahtera III.

Modal awal
Ketika pertama kali mengawali usaha sirup dan tonik jeruk nipis ini, menurut pengakuan Nunung, kelompok UPPKS Intan Kencana benar-benar tidak ada modal sama sekali. Namun berbekal pinjaman Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra) – yang diselenggarakan BKKBN, Bank BNI dan Yayasan Damandiri – sebesar Rp. 26.000, berikut pinjaman dari Keluarga Sejahtera III yang sudah mapan sebesar Rp. 300.000, mulailah usaha sirup dan tonik jeruk nipis ini beroperasi.
Kini dengan modal ketekunan dan keuletan dalam mengembangkan usaha, dibantu dengan permodalan yang berasal dari Kredit Pengembangan Kemitraan Usaha (KPKU) dari BKKBN pertama sebesar Rp. 6 juta, tahap II 20 juta, serta dari Sarana Jabar Ventura (Danareksa) sebesar Rp. 32 juta, usaha ini mengalami kemajuan pesat.
Tenaga kerjanya berasal dari ibu-ibu anggota UPPKS, dengan hasil pertama sebanyak delapan botol dan dipasarkan dari rumah ke rumah kepada anggota masyarakat. Kini kapasitas produksi sirup jeruk nipis Intan Kencana mencapai 12 ribu botol, sedangkan tonik jeruk nipis mencapai 50 ribu botol sebulan.
Harga jual sirup jeruk nipis Rp. 6.500 sebotol, sedangkan tonik jeruk nipis seharga Rp. 2.000.
“Untuk bisa mencapai target tersebut, sekarang yang bekerja bukan hanya ibu-ibu anggota UPPKS Intan Kencana saja sebagai tenaga inti, tapi juga melibatkan anggota masyarakat lain. Mereka mulai dari yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sampai anak-anak remaja pengangguran,” papar Nunung seraya menambahkan, jumlah tenaga kerjanya kini mencapai 50 orang.
Pesatnya kemajuan yang dicapai UPPKS Intan Kencana dalam memproduksi sirup dan tonik jeruk nipis mengakibatkan petani di Ciawi Gebang, kewalahan menyediakan bahan baku jeruk nipis. Sehingga untuk mendapatkan bahan baku perlu didatangkan dari Medan dan Lampung, yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil jeruk nipis yang cukup besar.
Upaya untuk mengembangkan usaha ini juga terus dilakukan, yaitu dengan membuat sirup dari mangga kweni. Namun, bahan baku menjadi hambatan, karena buah mangga kweni ini berbuahnya musiman, sehingga tidak bisa segera diproduksi.

Pemasaran sirup
Saat ini, pemasaran sirup maupun tonik jeruk nipis buatan UPPKS Intan Kencana selain di daerah jawa Barat sendiri, juga merambah ke kota-kota besar lainnya, baik di pulau Jawa dan Sumatera. Untuk lebih menarik konsumen mengkonsumsi sirup dan tonik jeruk nipis ini kemasannya ditambahkan assesoris tas dari anyaman bambu.
Dengan digunakannya anyaman bambu sebagai tas sirup dan tonik jeruk nipis , maka pemuda pengangguran di daerah Ciawi ini minimal bisa memiliki pekerjaan. “Dengan demikian, selain mengangkat tingkat ekonomi ibu-ibu dari keluarga pra-sejahtera, UPPKS Intan Kencana juga membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda pengangguran, baik yang putus sekolah maupun korban PHK,” tukas mantan Kepala Urusan Desa.
Disinggung tentang perluasan jalur pemasaran, Nunung yang lulusan sekolah perawat kesehatan ini menuturkan, sebenarnya ada niatan untuk memperluas jaringan pemasaran. Namun kendala permodalan serta keterbatasan tenaga serta bahan baku memaksanya untuk sementara waktu puas dengan hasil yang sekarang. “Tapi, tahun-tahun mendatang Insya Allah akan saya penuhi, asalkan ada pengusaha besar yang mau menjadi bapak angkat dari usaha ini,” ucapnya kembali berharap.

Bagi hasil
Sistem pengupahan yang dilakukan Nunung Nurhayati selain gaji bulanan, setiap tahun juga diberikan bagi hasil, tentunya setelah dipotong modal awal serta dikurangi penyusutan dan biaya lain-lainnya. Selain itu, uang kesejahteraan dan pengobatan bagi anggota dan keluarganya yang sakit juga menjadi tanggungan dari kelompok UPPKS Intang Kencana.
Setiap tahun, biasanya keuntungan bersih yang akan dibagikan untuk anggota sejumlah Rp. 19 juta, sedangkan selebihnya sebesar Rp. 50 juga digulirkan lagi untuk modal berikutnya. Tak hanya itu, apabila ada pesanan dari daerah lain yang butuh modal besar maka keuntungan tersebut tidak dibagikan lebih dulu, tapi digunakan sebagai modal bergulir kembali. ()

Comments (40) »