Archive for Desember, 2006

Mencangkok Instan (with Animasi)

Zaman serba praktis dan cepat, ini ada tip dan trik cara cepat mencangkok. Hasil dijamin lebih cepat dan lebih mudah terutama jika mencangkok di dahan yg tinggi.

Tehniknya hampir sama dengan cara mencangkok yang biasa, bedanya adalah media tanah sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Media tadi dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran ¼ kg untuk diameter batang
yang kecil dan ½ kg untuk diameter batang yang lebih besar (ukuran kantong plastik disesuiakan dengan diameter batang yang akan dicangkok).

Pengisian media ke dalam lembaran plastik :
Isikan media dan padatkan sampai ¾ plastik, kemudian tarik ujung kantong plastik dan ditalikan. Dari 2 kg media akan dihasilkan 15-20 media dalam kantong plastik. Media dalam kantong plastik tersebut tahan sampai dengan 1 bulan.

Cara penggunaan media tersebut tinggal menyobek/mengiris memanjang satu sisi kantong plastik dan sisi sobekan tadi dimasukkan dari bagian bawah luka bila posisi batang melintang atau datar, pada posisi batang tegak memasukkan bebas, kemudian diselubungkan secara merata ke keratan batang tanaman. Lakukan pengikatan, agar media pada posisi yang benar (letak sobekan menghadap ke
atas (bila posisi batang mendatar) dan media rata menyelubungi/menutup keratan/luka di batang tanaman).

Dengan tehnik ini diperoleh keuntungan:
1. Pencangkokan lebih cepat dan ringkas.
2. Jumlah tanaman yang kita cangkok bisa lebih banyak per satuan waktu.
3. Kita punya persediaan media dalam kantong plastik yang mudah dibawa kemana-mana dan mudah dipakai sewaktu-waktu.

Cangkok Instan

Cat :
Tambahkan hormon pertumbuhan atau vitamin, contoh Liquinox Start Vitamin B-1 yang banyak dijual di toko pertanian dengan dosis 2 cc untuk 1 liter air.Atau mudahnya 1 sendok makan = 1 tutup kemasan = 10 cc = 10 ml. Kalau kesulitan mencari hormon tumbuh dapat menggunakan pupuk Urea yang dicairkan dengan kadar 1 % atau 1 gr/1 lt air.

Contoh penggunaan media: 2 kg serbuk kelapa kering dicampur dengan 1liter air yang sudah dicampur dengan 1-3 tetes hormon pertumbuhan, kemudian diratakan hingga diperoleh campuran yang basah.

Mari Berkebun…!

CU…!

Mukti P.

Comments (45) »

TABULAMPOT SAWO, SEGAR DAN RAJIN BERBUAH

Tabloid Nova, Jumat, 22 Desember 2006, 9:20 AM

Rasa buahnya yang khas, tentu tak asing lagi bagi kita. Bagaimana jika kita pingin menanamnya dalam pot?

Sawo tergolong tanaman multiguna. Selain berfungsi sebagai tanaman penghijau di lahan-lahan kering dan kritis, sawo juga berfungsi sebagai penghasil getah untuk bahan baku industri permen karet. Tanaman ini juga rajin berbuah dengan rasa buah yang manis, segar, dan bergizi tinggi. Tak cuma itu, sawo pun bisa di-tabulampot-kan hingga punya nilai estetika tinggi, sekaligus sebagai apotik hidup keluarga.

SawoTanaman sawo (Achras zapota) termasuk famili Sapotaceae. Hidupnya menahun, batang berkayu keras, dan percabangannya cukup rapat. Bunga sawo muncul dari ketiak-ketiak daun, sedangkan buahnya terbentuk menggantung pada tangkai buah. Daging buah cukup tebal, mengandung banyak air, dan bergetah. Rasanya manis dan beraroma khas. Bijinya berbentuk bulat memanjang atau bulat pipih, hitam mengkilap, dan berkeping dua.
Dari biji, dapat digunakan untuk perkembangbiakan secara generatif. Namun demikian, khusus untuk tabulampot sawo, sebaiknya menggunakan bibit cangkok. Alasannya, umur panen relatif genjah, sekitar setahun bahkan bisa kurang. Sementara untuk bibit asal biji, akan berbuah sekitar 4-5 tahun.

CANGKOK SENDIRI
Pilih cabang yang cukup besar, sehat, dan lurus. Buat dua keratan melingkar cabang dengan jarak 5 cm, dan lepas kulitnya. Kerik kambium, dan biarkan selama 3 – 5 hari. Gunakan zat pengatur tumbuh akar (misal Rootone F), lalu oleskan pada bidang sayatan.
Ambil pembalut (sabut kelapa, lembaran plastik), lalu diikat pada bagian bawah keratan.

Selanjutnya, media cangkok (tanah subur dan pupuk kandang) diletakkan pada bidang keratan sembari dipadatkan hingga membentuk bulatan setebal 5 – 6 cm. Pembalut bagian atas juga diikat. Lalu ambil lidi, tusuk-tusukkan pada media yang telah terbungkus hingga membentuk lubang-lubang kecil.

Enam hingga delapan minggu kemudian, amatilah. Jika muncul akar-akar baru dari celah-celah pembalut, itu berarti pencangkokan sukses. Langkah selanjutnya adalah melakukan pendederan bibit cangkok sawo.

Siapkan polybag yang diisi campuran tanah subur dan pupuk kandang (1:1). Potong cangkokan, sebagian daun dan ranting. Lepas pembalutnya, dan masukkan di tengah-tengah polybag. Siram sampai basah. Simpan di tempat teduh dan aman. Setelah beradaptasi 4 minggu dan tunas-tunas baru bermunculan, bibit cangkok sawo dapat dipindahkan ke dalam pot.

POT DAN MEDIA TANAM
Mengingat tanaman ini nantinya diharapkan berbuah lebat, pilihlah pot yang kuat dan punya diameter sekurang-kurangnya 40 cm. Pot juga sebaiknya punya kaki dan berlubang pada bagian dasarnya. Media tanam harus lengkap berisi bahan organis dan anorganis. Yang termasuk organis adalah pupuk kandang, kompos, atau humus. Sedangkan yang anorganis meliputi tanah subur, pasir, pecahan genting, atau bata merah. Untuk tabulampot sawo, Anda bisa pilih memilih media tanam, seperti campuran tanah subur, pasir dan pupuk kandang (2:1:1), atau campuran tanah, sekam padi dan pupuk kandang (1:1:1), atau campuran tanah, serbuk gergaji dan pupuk kandang (1:1:1).

Cara mengisi media, masukkan selapis pecahan genting di dasar pot. Tambahkan selapis mos dan ijuk, lalu tambahkan lagi campuran media tanam berupa tanah subur dan pupuk kandang. Jangan lupa, berikan obat Furadan atau Curater sebanyak 2 sendok makan. Keluarkan bibit dari polybag, potong sebagian akar, cabang, ranting, atau daun yang berlebihan. Setelah itu, tanam dan padatkan media tanamnya. Siram sampai basah, dan simpan di tempat teduh untuk sementara.

Sering kita jumpai, kondisi tabulampot sawo tampak kering, kurus dan ogah berbuah. Kenapa? Jawabannya pasti karena kurang atau tidak dilakukan pemeliharaan dengan baik. Untuk itu, Anda harus melakukan pemupukan NPK, yang dapat diperoleh di kios atau toko pertanian terdekat.

Pada umur satu bulan, beri pupuk NPK (15-15-15) sebanyak 50 gram per pot. Caranya, benamkan merata sedalam 10 cm. Pemupukan berikutnya setiap 3 bulan sekali. Namun demikian, jika tanaman mulai berbunga, sebaiknya menggunakan NPK yang memiliki kandungan fosfat dan kalium lebih tinggi. Misalnya, NPK 15-20-20. Beri sebanyak 100 gram per pot

AGAR RAJIN BERBUAH
Idealnya, pembungaan dan pembuahan tabulampot sawo berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Pembungaan paling lebat terjadi pada musim penghujan. Namun, terkadang macet juga. Nah, untuk merangsang pembuahan, silakan simak beberapa tips berikut:
1. Sekitar 3 bulan sebelum musim hujan, beri pupuk NPK (15-20-20), dilanjutkan dengan teknik pengeringan berselang-seling. Contohnya, selama seminggu tidak disiram sama sekali (asal jangan sampai layu permanen). Setelah itu, siram sedikit demi sedikit selama 3 hari, dan keringkan lagi. Lakukan teknik pengeringan berulang-ulang hingga muncul tunas-tunas baru untuk pembungaan.

2. Ikat pangkal batang tabulampot sawo dengan kawat. Tujuannya untuk membatasi transportasi air dan unsur hara dari dalam tanah yang berlebihan.

3. Jangan ragu menambahkan zat pengatur tumbuh, misalnya Dekamon atau Atonik.

4. Potong akar dengan menyisakan 3 cabang akar.

ADA YANG BERAROMA DURIAN
Jenis sawo ternyata cukup banyak. Apa saja?

1. Sawo manila kulon
Bentuk buah lonjong, berbiji banyak, bergetah, dan cukup tahan disimpan.

2. Sawo manila betawi
Bentuk buah juga lonjong, berukuran besar, tidak banyak getah, rasa manis, tapi kurang tahan di simpan.

3. Sawo manila malaysia
Bentuk buah lonjong, berukuran besar, rasa buahnya manis.

4. Sawo manila karat
Bentuk buah agak lonjong, berukuran besar, berkulit tebal, kasar, dan berbintil-bintil kecil.

5. Sawo apel lilin
Bentuk buah bulat, berukuran agak besar, daging buah terasa agak keras.

6. Sawo apel kelapa
Bentuk buah bulat kecil-kecil, berkulit tebal, bergetah, berbiji banyak, dan tahan disimpan.

7. Sawo duren
Bentuk buah bulat, kulit buah halus, dan licin. Disebut sawo duren, karena aroma buahnya mirip dengan buah durian. Ada dua macam sawo duren, yakni sawo duren hijau dan sawo duren merah.

SEMBUHKAN DISENTRI
Selain buahnya yang lezat disantap, sawo ternyata juga memiliki khasiat untuk mengatasi beberapa penyakit atau kelainan.
A. Mengerem Diare
Ambil 1 buah sawo muda, cuci sampai bersih. Sawo diparut, lalu diperas dan disaring. Bila perlu, tambahkan sedikit air matang.

Silakan minum 2 kali sehari. Bisa juga menggunakan daun sawo. Sediakan 1 mangkok daun, lalu cincang dalam 2 gelas air bersih selama 15 menit. Nah, air rebusan ini diminum 3 kali sehari.

B. Menyembuhkan Radang Mulut
Ambil 1 mangkok daun sawo, lalu cincang dalam 2 gelas air bersih selama 10 menit. Pakai air hasil rebusan untuk berkumur.

C. Mengobati Disentri
Ambil 8 buah sawo muda, cuci bersih. Kunyah-kunyah halus dengan garam secukupnya. Sedikit demi sedikit ditelan, lalu minum air hangat. Lakukan 2 kali sehari hingga sembuh.
***

Comments (20) »

Tabulampot, Solusi Berkebun Di Lahan Sempit

Republlika Online, Rabu, 06 Oktober 2004

Pada tabulampot air dan pupuk dapat diserap sampai 80 persen. Sedangkan pada tanaman biasa air dan pupuk menyebar ke sekitarnya. Tinggal di perkotaan tapi ingin memuaskan hobi sekaligus memiliki kebun buah-buahan? Bisa. Ada tabulampot (tanaman buah-buahan dalam pot). Tak perlu lahan yang lapang, cukup di tempat terbatas, dan dapat diatur sesuai keinginan. Dalam kaleng bekas cat, drum, atau wadah-wadah lainya. Mediumnya pun bermacam. Tanah adalah medium yang biasa. Atau, Anda dapat memanfaatkan sekam.

”Sekarang model seperti ini lagi tren,” kata Marsono, konsultan pertanian dan pemasaran dari PT Niaga Swadaya pada pameran tanaman yang diselenggarakan Trubus di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pekan silam.

Sebenarnya menanam tanaman buah dalam pot sudah lama dilakukan orang. Setelah besar biasanya tanaman dipindahkan ke lahan. Namun, tabulampot baru menjadi tren karena kini dianggap indah, dan bila dibisniskan hasilnya memuaskan.

Tabulampot bisa menjadi solusi bagi yang ingin berkebun di lahan sempit. Dengan memanfaatkan lahan yang tidak luas, beberapa jenis tanaman bisa ditempatkan dalam lokasi yang berdekatan. Selain itu, hampir semua jenis tanaman buah-buahan bisa ditanam dalam tabulampot. Seperti sawo, mangga, rambutan, jeruk, belimbing, kedondong, jambu air, nangka, salak, dan lainnya. ”Hampir semua, bisa kecuali durian, bisa dijadikan tabulampot. Sebab, akar durian tidak fleksibel seperti tanaman lain. Mungkin nanti suatu saat kalau teknologinya sudah ada pasti bisa,” tutur Marsono.

Dari semua jenis tabulampot, yang paling mudah ditanam adalah mangga dan jambu air. Sedangkan tanaman lainnya perlu ketekunan karena memiliki karakter yang berbeda. Selain itu, pada tabulampot proses berbuahnya lebih cepat dibanding tanaman biasa. Mangga tabulampot, misalnya, bisa berbuah dalam waktu sekitar tiga tahun. Mangga biasa perlu waktu hingga lima tahun.

Itu karena tabulampot ditanam di tempat yang terbatas sehingga pasokan air maupun pupuk bisa diatur sesuai keinginan dan tidak tersebar ke mana-mana. Berbeda dari tanaman biasa yang ditanam di atas lahan, pasokan air dan pupuk bisa menyebar ke tempat sekitarnya sehingga kebutuhan tanaman pada dua hal itu berkurang. ”Pada tabulampot penyerapan air dan pupuk sampai 80 persen,” kata Marsono.

Bila sudah tumbuh besar, tabulampot bisa dipindah ke tempat lain yang lebih besar. Rasa buahnya juga tidak berbeda dari tanaman biasa. Merawatnya juga tidak jauh berbeda dari tanaman biasa yang memerlukan air, pupuk, penggemburan, penyemprotan hama, dan sanitasi lingkungan.

Terbatas

Memiliki tabulampot bukan tanpa kelemahan. Karena peredaran akarnya dibatasi, otomatis kemampuan berbuahnya juga terbatas. Sebatang mangga tabulampot maksimal bisa menghasilkan buah antara lima sampai delapan untuk sekali musim panen. Berbeda dari pohon biasa yang jumlahnya bisa banyak. Kalau dipaksakan tanaman bisa tidak berbuah di musim berikutnya, atau mati. ”Karena itu, sebaiknya tabulampotnya banyak sehingga jumlahnya sama dengan sebuah pohon biasa.”

Usia sebuah tabulampot mangga maksimal sekitar 10 tahun. Pohon mangga biasa bisa puluhan tahun. Bagi yang hobi, kendala itu tidak menjadi masalah. Banyak orang yang bisa meraih sukses dengan hobi ini. Bahkan bisa mengembangkannya hingga berbuah dalam jumlah besar. ”Mengurusnya sama dengan mengurus anak,” kata Wahidin Yunus, pengembang tabulampot yang sukses.

Ia tertarik menjalankan hobi ini karena memang menyukai tanaman, dan lagipula tabulampot bisa dilakukan di lahan terbatas. Bermodal pekerjaannya di Sudin Pertanian Pemprov DKI dan lahan 1.000 meter persegi di kawasan Cimanggis, Bogor, ia memulai hobinya sejak empat tahun silam.

Hobi coba-coba itu tanpa disangka bisa berkembang pesat sampai kini. Wahidin mengatakan memiliki sekitar 100 pohon mangga, semangka, dan beberapa pohon lain seperti kedondong, rambutan, nangka dan sebagainya. Resep keberhasilan bisnisnya ini berkat informasi yang rajin ia serap dari berbagai pertemuan maupun pameran tentang tabulampot dan usahanya yang tanpa henti.

Selain itu, Wahidin menerapkan kiat yang sedikit berbeda dari pengembang tabulampot lainnya. Ia menggunakan sekam padi, pupuk, dan tanah merah. Ia menanam tabulampot dengan komposisi 4:1:2 (empat ember sekam padi, satu ember pupuk kandang, dan dua ember tanah merah). ”Cara seperti ini memudahkan kita memindahkan tanaman ke tempat lain,” ujarnya.

Bila tanaman terus berkembang, drum yang digunakan sebagai tempat menyimpan tabulampot jebol karena berkarat. Agar akar tidak tembus ke tanah, Wahidin mengganjal alas drum dengan batu bata secukupnya guna mencegah akar pohon masuk ke dalam tanah.

Tabulampot Mangga Paling Diminati

Dari tabulampot buah-buahan, tanaman mangga yang paling diburu pecinta tabulampot. Marsono, konsultan pertanian dan pemasaran PT Niaga Swadaya, mengungkapkan, tabulampot mangga yang belum berbuah biasanya dijual sekitar Rp 200 ribu per pohon. Namun, yang sudah berbuah bisa mencapai Rp 400 ribu lebih per pohon. ”Soalnya sudah terbukti berbuah dan terlihat cukup menarik,” katanya beralasan.

Ucapan Marsono itu dibuktikan oleh Wahidin Yunus, salah seorang pengembang tabulampot yang sukses. Tanaman mangganya yang ia buat tabulampot dengan modal sekitar Rp 100 ribu ia bisa menjual kembali seharga Rp 1,5 juta.

Mangga tabulampot miliknya bisa menghasilkan buah hingga 40 buah sekali musim panen. Ia mengakui, tanaman mangga paling mudah dijadikan tabulampot karena itu tanaman ini menjadi favorit para penggemar tabulampot, baik pemula maupun yang sudah lama.

Harga bibitnya relatif tidak terlalu mahal, yakni sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu dengan tinggi sekitar satu meter tiap pohon. ”Biasanya sekitar enam bulan sudah bisa panen,” ungkap Marsono.

Tentang bibitnya, Wahidin Yunus, salah seorang pengembang tabulampot yang sukses, mengaku memburunya hingga sampai ke Majalengka, Jawa Barat. Kawasan itu memiliki bibit tanaman, terutama untuk tabulampot, yang baik.

Comments (24) »

Tanaman Buah dalam Pot : Alternatif Hijaukan Lahan Terbatas

Sawo HIJAU bukan hanya milik rumah dengan pekarangan luas. Karena sempitnya lahan biasa disiasati dengan menanam pohon dalam pot, termasuk buah-buahan.
Tanaman buah dalam pot (tabulampot) bahkan punya fungsi ganda. Bukan saja memberikan kesan hijau pada lingkungan rumah, tetapi juga menghasilkan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan. Siapa yang tidak tertarik melihat tanaman dalam pot mampu memberikan buah seperti halnya pohon yang ditanam langsung di tanah.
“Bedanya, jumlah buahnya tidak sebanyak kalau pohon ditanam langsung di tanah. Dengan pot, meski dari potongan drum tetap saja medianya terbatas yang ada dalam pot itu saja”, kata Supandi, pakar tabulampot kepada Bernas Jogja Rabu (15/6) di kebunnya, Kepanjen Nogotirto Gamping Sleman, beberapa ratus meter di belakang Hero Supermarket Jalan Godean.
Menurut Supandi yang menekuni tabulampot sejak tahun 1984, pada dasarnya semua pohon buah-buahan bisa ditanam dalam pot. Meski secara fisik tidak tumbuh sebesar pohon biasa, namun dengan perawatan dan pemupukan yang baik, tabulampot juga cepat berbuah. “Karena bibitnya termasuk genjah, dikembangkan dengan sistem cangkok, okulasi maupun sambung pucuk”, katanya.
Ide pengembangan tabulampot, merupakan langkah Supandi mengakomodasi kepentingan keluarga-keluarga yang tak punya halaman, tetapi ingin memberikan sentuhan hijau segar di lingkungannya.
“Terutama permukiman di perkotaan, rata-rata lahannya kan sempit. Jadi tabulampot merupakan salah satu jawabannya”, katanya. Ke depan kecenderungan kebutuhan tabulampot akan semakin meningkat karena rata-rata lahan untuk rumah semakin sempit.
Di kebunnya seluas 1.500 meter, bila ditotal ada ratusan tanaman siap berbuah baik di drum, pot besar maupun polybag. Belum termasuk ratusan bibit yang relatif lebih kecil dan memerlukan waktu satu dua tahun untuk berbuah.
Segala macam mangga ada di sana. Jambu mulai jambu wudel, kluthuk, jamaica, brazil, dersana semua ada. Juga aneka jeruk, durian, nangka, sawo, blimbing, manggis, kemulwa, sirsat lokal dan Australia, duku, dondong. Bahkan sukun pun bisa ditanam dalam pot dan bisa berbuah.
Menurut Supandi, memelihara tabulampot tidak sulit. Dengan media tanam produksi Supandi yang merupakan campuran berbagai bahan antara lain inthil wedhus (kotoran kambing), cukup mendukung pertumbuhan pohon. Ia mencoba menghindari pupuk kimia.
Tabulampot juga luwes untuk dipindah-pindah tempat sesuai selera. Termasuk bagi keluarga yang ngontrak atau mereka yang kos, dengan mudah membawa tabulampot pindah ke rumah yang baru dalam kondisi tetap aman. “Kalau tanaman langsung di tanah kan nggak mungkin mbedhol untuk dibawa pergi”, katanya.
Supandi tidak hanya sekadar jualan pohon, tetapi bagi pembeli bisa mendapatkan kursus kilat gratis. Masyarakat yang ingin konsultasi pun diterima dengan senang hati.
Di tengah kebun sisi depan, ada sebuah pohon sawo manila yang ditanam dalam drum. Pohonnya jauh lebih besar dibanding yang lain, karena sudah berusia 21 tahun. Buahnya terus muncul sepanjang tahun. “Ini karya monumental saya”, katanya. (ato)

Sumber : http://www.bernas.co.id
Sabtu, 17 Sep 2005 22:41:53

Comments (2) »

Jambu air di tabulampot

Dengan hati-hati tangan Benyamin Gunawan membuka plastik transparan pembungkus jambu air di tabulampot di halaman rumah. Dari balik plastik, menyembul 3 buah berbentuk lonceng berwarna merah terang. Melihat penampilan citra yang masih bergelayutan itu, Benyamin bukannya tersenyum puas. Keningnya justru berkerut-merut kebingungan. Ia tak habis pikir, kecantikan citra selalu ternoda oleh pangkal buah yang retak dan belah sepanjang 2 – 3 cm.

Kisah serupa juga dialami Widartono, kolektor di Kedoya, Jakarta Barat. Pria jangkung itu menduga retak di pangkal, ciri buah matang maksimal. Di Bulungan, Kalimantan Timur, Lutfi Bansir mengeluhkan hal sama. Pria yang gandrung mengoleksi ragam jambu air itu mencoba mengatasi dengan dolomit. Di Subang, JK Soetanto memanen citra sebelum matang maksimal supaya buah tidak telanjur retak. Ia juga melakukan pengairan rutin agar aliran air ke buah stabil.

Perkara menampilkan citra yang mulus memang dambaan semua hobiis. Namun, itu tak mudah didapat karena citra terbilang rewel. “Merawat citra lebih sulit ketimbang varietas lain, ” tutur Prof Dr Sri Setyati Harjadi, guru besar Institut Pertanian Bogor. Citra memang istimewa. Buah bongsor, manis, warna merah cerah, dan nyaris tak berbiji. Pantas bila Syzigium javanica itu langsung menjadi primadona pencinta buah. Namun, “Keunggulan itu mesti diimbangi dengan perawatan khusus supaya keistimewaannya keluar, ” ujar Dr Moh Reza Tirtawinata, MS, pakar buah yang pertama kali menemukan citra.

Sekadar contoh sosok bongsor citra. Bobot yang besar -mencapai 200 -250 g – menunjukkan aliran karbohidrat hasil 45 hari, pentil buah dicekoki terus-menerus dengan makanan hingga membesar. “Ketika elastisitas kulit buah tidak sanggup mengikuti laju pembesaran buah, terjadilah retak, ” kata Reza. Buah jumbo membuat tangkai yang hanya seukuran kabel tak sanggup menopang bobotnya. Akibatnya, buah kerap rontok.

Buah kaget
Musabab lain, “Buah retak karena jumlah air di dalam tanah berubah secara tiba-tiba,” tutur JK Sutanto, pekebun jambu air di Subang. Akibatnya terjadi perubahan tekanan turgor secara mendadak. Sel menggelembung akibat volume cairan di dalam bertambah. Ini biasanya terjadi pada buah yang muncul pada musim kemarau, lalu dikejutkan datangnya hujan. Laju aliran air dan hara dari tanah ke buah yang semula lambat berubah menjadi cepat secara tiba-tiba. Ketika kecepatan kulit buah “mengembang ” lebih lambat ketimbang aliran air dan hara ke buah, terjadilah pecah di pangkal.

Hal senada diungkap Eric Lim, konsultan pertanian dari Malaysia. Menurut Eric, pecah buah terjadi bila ada defi siensi unsur mikro yang dikombinasikan dengan kondisi kekeringan. Kekurangan unsur mikro membuat kulit buah tidak elastis. Sementara kondisi kering yang tiba-tiba dikejutkan dengan turunnya hujan membuat akar menyerap hara dengan cepat. Kulit buah tidak sanggup menahan laju pembesaran buah sehingga pecah. Hal serupa kerap terjadi pada jeruk dan duku.

Elastisitas kulit buah bisa diperbaiki dengan memberikan unsur mikro, seperti kalsium dan kalium. Alternatif lain, membenamkan kapur pertanian dalam bentuk kalsit CaCO3 dan dolomit CaMg (CO3)2. “Kalsium mempertahankan elastisitas perkembangan sel buah,” ujar Reza.

Dari berbagai literatur pelajari, kalsium menguatkan dinding sel dan menggiatkan pembelahan sel. Ia juga mengaktifk an kerja berbagai macam enzim. Sementara kalium berperan sebagai katalisator dalam pengubahan protein menjadi asam-asam amino. Ketersediaan kalium dalam tanaman yang memadai membuat batang, cabang, ranting, dan tangkai buah kekar. Dengan begitu buah tak gampang rontok.

Busuk buah
Momok lain buat penggemar citra:busuk akibat serangan lalat buah. Upaya mengatasi dengan membungkus buah tak sepenuhnya membuahkan hasil. Dari luar buah terlihat mulus, tapi begitu dibelah bagian dalam busuk. Itu terjadi karena pemilik terlambat membungkus dan pemilihan jenis pembungkus yang tidak tepat.

Beberapa hobiis membungkus dengan plastik. Namun, pembungkus plastik tanpa lubang angin membuat kelembapan di sekeliling buah naik. Akibatnya, cendawan gampang menyerang. Hobiis lain membungkus dengan kertas koran atau karbon. Kertas koran memang menyerap air sehingga kelembapan terjaga. Namun, biasanya buah dibungkus dengan bagian bawah terbuka. Akhirnya, para pekebun dan hobiis sepakat. Agar sang primadona tampil mulus sempurna semua kombinasi perlakuan mesti diterapkan. Berikut cara agar citra tampil mulus.

Cegah buah retak
1. Lakukan penyiraman rutin-sekali sehari pada pagi atau sore hari-saat musim kemarau, terutama ketika tanaman mulai berbuah. Itu untuk menghindari perubahan tekanan turgor secara tiba-tiba saat musim hujan tiba. Banyak pekebun menganggap, penyiraman saat tanaman jambu air berbuah menyebabkan rasa kurang manis. Padahal, rasa manis tetap terjaga asalkan pemberian air rutin.
2. Cukupi ketersediaan kalsium dan kalium di dalam tanah jauh-jauh hari sebelum tanaman berbuah. Misalkan, untuk menambah kalsium diberikan kapur pertanian atau dolomit 2-3 bulan sebelum masa berbuah. Dosis kapur tergantung pH tanah dan ukuran tanaman. Namun, pengalaman Lutfi Bansir, pembenaman 1 kg dolomit untuk pohon jambu berumur 2-3 tahun sudah cukup. Kalium ditambahkan dengan pemberian pupuk KCl.
3. Menurut Reza, tanpa analisis hara tanah, sulit menentukan dosis kalsium dan kalium. Tak jarang keduanya sebenarnya tersedia dalam tanah, tapi tidak dapat diserap akar karena terikat kuat oleh tanah. Supaya aman, gunakan probiotik tanaman buah. Probiotik mengandung mikroorganisme yang mampu melepaskan ikatan Ca dan K dari tanah sehingga mudah diserap tanaman. Setiap 5 cc diencerkan dalam seliter air. Kebutuhan setiap tanaman 5 liter per minggu. Bila Ca dan K tercukupi, maka buah tak gampang retak.

Cegah buah busuk
1. Penyebab utama jambu air busuk ialah serangan lalat buah. Karena itu pembungkusan buah menjadi mutlak 15 hari setelah bunga mekar. Sebelum dibungkus, lakukan pencegahan dengan menyemprotkan insektisida dan fungisida yang dicampurkan dengan dosis masing-masing 1 cc/l atau sesuai petunjuk di kemasan.
2. Bungkus pentil buah dengan pembungkus ganda: kertas dan plastik. Kertas mengurangi kelembapan di sekeliling buah sehingga serangan cendawan minimal. Kertas dilapisi plastik. Agar lebih praktis, gunakan pembungkus buah tunggal berbahan khusus nonwoven. Bahan itu ringan dengan pori mikroskopis sehingga kelembapan tinggi akibat pengembunan terhindar.
3. Untuk mengurangi serangan lalat buah, pasang perangkap. Biasanya berupa wadah plastik berisi senyawa kimia eugenol. Aroma eugenol mirip bau tubuh lalat betina sehingga lalat jantan terpancing masuk ke dalam perangkap.
4. Untuk pekebun skala besar, lakukan pengasapan dengan insektisida sekali seminggu di sekitar kebun. (Destika Cahyana)

Sumber :
Selasa, 11-April-2006, 08:32:15
© 2006 trubus

Comments (13) »

PEMILIHAN TEHNIK PERBANYAKAN VEGETATIF

Ada lima cara perbanyakan vegetatif buatan untuk tanaman buah yang sudah dikenal oleh
para penangkar bibit dan petani yaitu cara penyambungan, okulasi, penyusuan, cangkok dan
setek. Pada tiga cara yang pertama dikenal adanya istilah batang bawah dan batang atas.
Batang bawah berupa tanaman yang biasanya berasal dari biji. Tanaman dari biji sengaja
dipilih karena mempunyai keunggulan dari segi perakarannya, yakni tahan cendawan akar
dan mempunyai perakaran yang banyak serta dalam, sehingga tahan terhadap kekeringan
dan kondisi tanah yang becek. Sedangkan batang atas berupa ranting atau mata tunas dari
pohon induk yang mempunyai sifat unggul terutama dalam produksi dan kualitasnya. Dari
hasil menggabungkan sifat batang bawah dan batang atas ini diperoleh bibit tanaman yang
disebut bibit enten, okulasi dan susuan. Pada perbanyakan dengan cara mencangkok batang
bawah tidak diperlukan karena pada cara ini perakaran keluar langsung dari cabang pohon
induk yang dicangkok. Sedangkan cara setek pada prinsipnya menumbuhkan bagian atau
potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru menumbuhkan bagian atau potongan
tanaman, sehingga menjadi tanaman baru.
Kelebihan bibit vegetatif yaitu selain berbuahnya persis sama dengan induknya, bibit juga
berumur genjah (cepat berbuah). Tanaman manggis asal bibit susuan berbuah lima tahun
setelah tanam, sedangkan bibit yang berasal dari biji baru berbuah 10-15 tahun setelah
tanam. Bibit durian okulasi bisa berbuah 4-6 tahun setelah tanam, sedangkan bibit asal biji
berbuah lebih dari 10 tahun setelah tanam.
Beberapa jenis tanaman buah-buahan tertentu sampai saat ini hanya berhasil diperbanyak
dengan cara tertentu pula. Ada jenis tanaman tertentu yang tidak bisa diokulasi karena
banyak mengandung getah. Rambutan dan kapulasan selalu gagal kalau disambung (enten)
karena pengaruh asam fenolat yang teroksidasi dapat menimbulkan pencoklatan (browning).
Resin dan asam fenolat ini bersifat racun terhadap pembentukan kalus. Sedangkan contoh
lainnya adalah belimbing dan manggis yang sulit sekali berakar bila dicangkok karena
kalusnya hanya menggumpal dan tidak mampu membentuk inisiasi (bakal) akar.
Dalam perbanyakan vegetatif tanaman buah-buahan, ada cara perbanyakan tertentu yang
lebih menguntungkan bila dilakukan pada jenis tanaman tertentu pula, sehingga cara
perbanyakannya menjadi cepat dan efisien. Tanaman manggis dan belimbing akan lebih
menguntungkan bila diperbanyak dengan cara enten, sedangkan durian menguntungkan bila
diperbanyak dengan cara okulasi.
Perbanyakan tanaman buah-buahan dengan cara penyusuan walau keberhasilannya tinggi,
tetapi kurang praktis dalam pengerjaannya, sehingga bibit yang dihasilkan per satuan waktu
menjadi sedikit. Sebagai contoh seorang pekerja yang sudah terampil mengokulasi durian,
dalam sehari (8 jam kerja) bisa mengokulasi 350-400 tanaman, sedangkan untuk penyusuan
hanya bisa mengerjakan 75-100 susuan sehari. Oleh karena itu perbanyakan dengan cara
penyusuan hanya disarankan sebagai alternatif terakhir dalam perbanyakan tanaman buah-buahan
seperti pada perbanyakan tanaman jenis nangka kandel yang keberhasilannya kurang
dari 20% bila diperbanyak dengan cara enten atau okulasi.
Dengan diketahuinya cara perbanyakan yang lebih menguntungkan untuk masing-masing
tanaman buah-buahan, maka akan diperoleh efisiensi tinggi dalam pengadaan bibit buah-buahan secara masal,walaupun dengan menggunakan cara konvensional.

Sumber : World Agroforestry Centre (ICRAF) & Winrock International

Comments (35) »

Membuat Halaman Menjadi Taman

Republika Online, Minggu, 03 September 2006

Pernahkah Anda membayangkan kalau suatu saat kelak halaman atau pekarangan rumah Anda bakal bisa menjadi taman buah atau taman bunga yang indah nan cantik? Ya, hal itu dapat terujud, tergantung kemauan dan keseriusan kita.

Menurut pengusaha tanaman buah dan bunga, siapa saja, yang rumahnya memiliki halaman, dapat membangun pekarangannya menjadi taman buah atau taman bunga. Sebab untuk mewujudkan itu tidaklah sulit, hanya perlu keuletan dan perawatan atas tanaman-tanaman tersebut.

”Waktu kita memang akan sedikit tersita untuk mengurusi tanaman itu, misalnya mengatur penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan sesekali mengawasi kemungkinan datangnya hama tanaman,” ujar Yanti Permana, pengusaha tanaman buah dan bunga di kawasan Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Menurut wanita yang sudah sepuluh tahun berbisnis tanaman, saat ini banyak bibit buah atau bunga yang dijual di pasaran. Tanaman tersebut umumnya merupakan bibit unggul yang siap dikembangkan. ”Kita tinggal memilih bibit jenis buah atau bunga apa yang kita inginkan, semuanya tersedia,” ujarnya. Tanaman bibit buah dan bunga bisa ditanaman di halaman atau di pekarangan rumah dengan menggunakan pot. Untuk tanaman buah, biasanya menggunakan pot yang lebih besar, seperti drum, sementara untuk bunga, potnya lebih kecil.

Tanaman-tanaman ini semuanya cocok ditempatkan dimana saja, tapi sebaiknya diletakkan di titik yang mendapat sinar matahari. ”Ini agar pertumbuhannya lebih bagus,” paparnya.

Untuk jenis tanaman buah yang akan ditanam, dianjurkan agar disesuaikan dengan luas halaman atau pekarangan rumah. Jangan sampai pekarangannya kecil, lantas menanam bibit durian, misalnya. Ini tentu kurang cocok, sebab, pohon durian akan tumbuh agak tinggi dan perkembangannya melebar.

Yang lebih pas untuk ditaman di lahan yang lebih kecil, misalnya rambutan, jambu, sawo, atau mangga. Tanaman pot ini bisa berbuah meskipun pohonnya masih kecil dan pendek.

Untuk tanaman bunga, kita memilih pot yang sesuai dengan selera, tapi disarankan ukurannya tidak terlalu besar. Sebab terkadang pot yang besar akan mengganggu keindahan dari bunga itu sendiri. ”Disesuaikan dengan ukuran bunganyalah.” papar Yanti.

Lantas bagaimana tanaman itu agar cepat berbunga atau berbuah. Suwardi, petani tanaman di Jalan Pajajaran, Kota Bogor, menjelaskan, sebenarnya tidak ada kiat khusus agar tanaman itu cepat berbunga atau berbuah. Perawatannya pun biasa saja, namun perlu meluangkan waktu untuk mengurusinya agar kelak mendapatkan hasil yang maksimal.

Untuk tanaman bunga, lanju Suwardi, kita perlu mencocokkan jenis bunga dengan media serta pupuknya. Misalnya, bunga mawar. Medinya adalah tanah yang dicampur dengan kotoran hewan yang sudah kering. ”Agar tanaman ini cepat berbunga kita perlu memberinya pupuk NPK,” ujarnya.

Harus dipangkas
Dalam perawatan bunga mawar, harus dipangkas dan dipotong batangnya. Setiap kali selesai berbunga, batangnya dipotong hinga pendek. Dengan begitu akan muncul lagi tunas yang bercabang. Begitu dipangkas, pupuk NPK ditabur kembali di sekeliling batang (jangan mengenai batang dan daun). Makin banyak cabangnya, akan makin banyak pula bunga yang muncul. ”Dengan cara ini bunga akan terus muncul,” papar Suwardi.

Tanaman bunga lainnya juga hampir sama, misalnya bunga bougenvil. Tetap dilakukan pemangkasan dan pemberian pupuk NPK. Disebutkan, pupuk NPK cocok untuk hampir semua jenis tanaman bunga, termasuk buah. Pupuk ini akan lebih cepat merangsang munculnya bunga dan buah pada tumbuhan. Untuk tanaman buah, juga perlu pemupukan yang rutin, misalnya setiap tiga bulan sekali. Sekarang, seiring dengan makin manjunya industri pertanian, jenis pupuk yang ada di pasaran pun semakin beragam. Ada pupuk khusus untuk daun yang merangsang munculnya putik, ada juga untuk akar dan batang. ”Intinya pupuk itu semua bagus, asalkan sesuai dengan anjuran pemakaiannya.”

Sama dengan bunga, tanaman buah juga harus dipangkas, agar tunas dan cabang baru muncul serta pertumbuhannya tidak terlalu tinggi. Kata Suwardi, diusahakan juga agar daunnya tidak terlalu rimbun, karena itu perlu dipangkas. Dan yang paling penting, jangan lupa melakukan penyiraman, paling tidak dua kali dalam sehari. ”Kalau hal ini rutin dijalankan, tanaman buah dan bunga akan mendapatkan hasil maksimal. Dan halaman rumah Anda bakal berubah menjadi taman bunga atau taman buah.”
(kho )

Comments (39) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.